Seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak bermunculan aliran maupun jamaah-jamaah yang berlabelkan atau mengatasnamakan Islam dan alasan sebagainya, sebut saja aliran Al-Quran Suci, Ingkar Sunnah, NII, Ahmadiyah dan masih banyak lainnya telah dinyatakan sesat. Namun, pada kali ini MUI kembali memberikan maklumat terhadap aliran Al-Qiyadah Al-Islamyiah yang dinyatakan juga bulat sebagai aliran sesat.
Mengenai hal tersebut disebuah dialog di TV swasta, pimpinan dari Al-Qiyadah Al-Islamiyah mengaku dirinya juga sebagai Rasul setelah Nabi Muhammad SAW karena mereka tidak meyakini setelah Nabi Muhammad tidak ada Nabi lagi. Berikut ini hasil yang dirangkum dari wawancara bersama pimpinan Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang bernama Ahmad Mushaddeq. Aliran ini mulai terdengar ke publik atau umat Islam pada umumnya sekitar bulan Juli 2007 dan baru-baru ini pun telah banyak melakukan pembaiatan terhadap pengikutnya dengan syahadat yang sangat berbeda dari biasanya umat Islam di Indonesia bahkan di dunia.
MUI sendiri memutuskan sesat dengan mempertimbangkan beberapa hal, yakni mereka tidak menyebut nama Muhammad dalam syahadat dan menggantikan dengan nama pemimpinnya Ahmad Mushaddeq, selain itu mereka meyakini Muhammad bukanlah nabi akhir zaman umat Islam serta yang paling tragis aliran dari Ahmad Mushaddeq belum mewajibkan shalat, puasa, bahkan haji untuk pengikutnya. Ahmad Mushaddeq sendiri mengaku sebagai Rasul, seperti yang diyakininya bahwa tanda kerasulan itu datang pada waktu yang tepat, dan ucapan yang dipercaya. Selain itu mereka membagikan syariat dalam dua macam serta memberlakukan hijrah yakni jahron dan syiron.
Pandangan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah terhadap umat Islam pada umumnya bagi yang menentang aliran tersebut seperti ormas-ormas Islam adalah karena mereka (ormas Islam, -red) tidak memahami Quran. Mushaddeq akan membuktikan dirinya dengan siapa pun bahwa dirinya Nabi dan mengerti dengan ilmu takwilan seperti yang diungkapkan bahwa dia menilai semua ilmu tafsir yang ada sekarang tidak fungsional bahkan dirinya mengaku mendapat ruh kudus untuk bisa mentakwilkan Al Quran. Ruh itu sendiri datangnya pun tidak jelas prosesnya, Shaddeq menyebutkan bahwa Quran sendiri terdapat dua dimensi yaitu ruh dan bacaan, tambahnya. Masalah mukjizat pun mereka tetap sama dengan Nabi Muhammad yakni Al Quran, tanpa ada kitab lainnya. Dari hasil dialog tersebut Mushaddeq mengutarakan bahwa mereka juga tidak akan memaksakan umat Islam pada umum untuk masuk dalam aliran mereka.